Perkembangan Indonesia dalam Sektor Pertanian dan Kemiskinan

Pertanian, Pengangguran dan Kemiskinan

Oleh: Dr. Harry Azhar Aziz

Tahun: 2002

Pendahuluan

Latar Belakang Masalah

Pembangunan ekonomi adalah untuk kesejahteraan rakyat. Bagaimana menjelaskan pembangunan ekonomi tetapi pengangguran dan kemiskinan masih berkelana di tengah masyarakat banyak? Bagi Rostow (1960), pembangunan ekonomi akan sustainable bila kemajuan industri dan jasa didukung maju pertanian, sektor penyerap terbesar lapangan kerja. Kemiskinan terkait lapangan kerja. Penduduk miskin perdesaan lebih besar dari perkotaan. Serta makin meningkatlah angka kemiskinan bila pengangguran makin bertambah tiap tahunnya. Tulisan ini dibuat semata-mata untuk menggambarkan keadaan perekonomian yang terjadi di Indonesia, sehingga kita masyarakat luas dapat mengetahui dalam setiap perkembangannya di bidang pertanian yang juga terkait dalam pembagian kesempatan kerja dan kemiskinan. Serta disini kita dapat mengetahui langkah dan upaya yang dilakukan pemerintah dalam menghadapi masalah-masalah tersebut.

KINERJA PEMBANGUNAN PERTANIAN

Kinerja pemerintah dalam melakukan pembangunan pada bidang pertanian itu memprioritaskan tiga langkah upaya yang akan menjadi tujuan dari pembangunan ini dilakukan, yaitu :

1. Peningkatan Pelayanan dasar dan pembangunan perdesaan

2. Percepatan pertumbuhan berkualitas, memperkuat daya tahan ekonomi didukung pembangunan pertanian, infrastruktur dan energi.

3. Peningkatan upaya anti korupsi, reformasi birokrasi, serta pemantapan demokrasi, dan keamanan dalam negeri.

Dari upaya pembangunan pertanian diharapkan dapat menciptakan kesempatan kerja, dan mengentaskan kemiskinan, menjadi penyedia lapangan pekerjaan yang besar. agar terlepasnya masalah kemiskinan, kesenjangan dan kesempatan kerja, inventarisasi dan ekspor, juga revitalisasi pertanian dan pedesaan.

KINERJA PROGRAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN

•Periode 1996-1999: penduduk miskin meningkat dari 34,01 juta (1996) menjadi 47,97 juta (1999). Di perdesaan akhir 1999 meningkat dari 19,78% menjadi 26,03%, lebih besar dari perkotaan (19,41%).

•Periode 2000-2005: penduduk miskin menurun dari 38,07 juta (2000) menjadi 35,01 juta (2005). Penurunan terjadi juga pada persentase penduduk miskin perdesaan dari 22,38% pada (2000) menjadi 19,98% (2005). Periode sama, persentase kemiskinan perdesaan masih lebih besar dari perkotaan.

•Periode 2005-2009: penduduk miskin tahun 2006 sempat naik dari 35,1 juta (15,97%) menjadi 39,3 juta (17,75%), karena inflasi 17,95%. Di akhir tahun 2009 jumlah kemiskinan turun menjadi 32,53 juta (14,15%) dengan persetase kemiskinan perdesaan masih lebih besar dari perkotaan (17,35%).

gambar presentase jml pnduduk

Program Raskin

Operasi pasar khusus beras (OPK beras) sejak 1998 adalah cikal bakal program Raskin. Program raskin adalah strategi preventif mengatasi kelompok miskin rawan pangan. Periode 1998–2003, melalui OPK beras/Raskin, didistribusi lebih 10 juta ton beras (rata-rata 1,7 juta ton/thn) untuk sekitar 7,1 juta rumah tangga miskin nasional.

Program RASKIN mengurangi beban RTM melalui pemenuhan kebutuhan pangan pokok/beras. Program RASKIN 2008 untuk membantu 19,1 juta RTM data BPS (1 September 2006,(tabel 2) , melalui pendistribusian beras bersubsidi sebanyak 15 Kg/RTM/bulan selama 12 bulan dengan harga tebus Rp 1.600 per kg netto di titik distribusi.
yang mengindikasikan:

• Sasaran penerima manfaat meningkat mendekati kebutuhannya.

• Pencapaian penerima manfaat selalu lebih banyak daripada pagu sasaran.

• Raskin juga berfungsi sebagai alat pengendali harga beras konsumen.

gambar program raskin

KESIMPULAN

1. Besarnya penduduk masih miskin & menganggur dan tinggal di wilayah perdesaan, menjadikan sektor pertanian sebagai sektor kunci pembangunan.

2. Produktivitas dan kualitas sektor pertanian adalah 2 hal yang harus dibenahi sehingga sektor pertania menjadi andalan mengatasi kemiskinan dan pengangguran di perdesaan. Perlu master plan komprehensif dari lembaga terkait untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas sektor pertanian ini.

3. Luas lahan pertanian produktif yang mengecil menurunkan produktivitas. Reformasi UU Agraria harus dilakukan. Kompensasi terhadap peralihan lahan produktif harus berkorelasi terhadap peningkatan produktivitas pertanian.

4. Subsidi pupuk yang terus meningkat seharusnya meningkatkan produktivitas. Implementasi yang efisien dan efektifit harus terus diupayakan.

5. Kualitas produktivitas dan keterbatasan lahan bisa diatasi dengan anggaran R&D Pertanian menemukan varian produk, sistem produksi, pemasaran, & industri sektor pertanian. Investasi pertanian harus didorong.

6. Pentingnya sektor pertanian bagi pertumbuhan ekonomi, pengentasan kemiskinan, dan pengangguran, perlu monitoring intensif bagi perencanaan program dan pelaksanaan program pertanian oleh lembaga terkait sehingga pencapaian sasaran target tepat waktu.

Daftar Pustaka

http://www.ekonomirakyat.org

/www.ekonomirakyat.org/_artikel.php?id=3

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s