Perlindungan bagi Anak Indonesia

Pasal 28B ayat 2

setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”.

Seorang anak yang mempunyai cita-cita ingin menjadi dokter bila ditanya oleh orang tua. Tidak ada salahnya sang anak menginginkan hal btersebut karena ia pun memiliki hak yang sama atas hidupnya. Namun, di Indonesia ini masih banyak angan-angan dari kebanyakan anak hanya menjadi omongan yang tidak akan terwujud. Karena kurangnya perhatian dari orang tua karena himpitan ekonomi. Hingga banyaknya anak tersebut dijadikan objek dari para orang tua untuk mencari nafkah untuk mendapatkan uang untuk makan dan memenuhi kebutuhan lain.

Misalnya anak-anak yang mencari rezeki di dalam kereta. Mereka rela melakukan apa saja demi mengharapkan balas sepeser uang dari orang lain, seperti mengamen, menyapu-nyapu lantai kereta, atau hanya memasang muka yang mengharapkan belas kasihan dari orang lain saja. Sebenarnya hal itu telah melanggar hak anak, karena apa yang mereka lakukan itu didasari atas keterpaksaan masih banyak dari mereka yang mengharapkan ingin seperti anak yang lain yang masih bisa bersekolah, bermain bebas.

“Maka adakah cara untuk mengurangi jumlah mereka dalam melakukan hal itu?”

Diyakini bahwa kemiskinan merupakan akar dari banyak masalah termasuk soal perlindungan anak yang penampakannya perlakuan salah, kekerasan dan diskriminasi terhadap anak. Sebenarnya di Indonesia telah didirikan KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia), yaitu lembaga Independen yang kedudukannya setingkat dengan komisi negara yang dibentuk berdasarkan amanat keppres 771 2003 dan pasal 74 UU no.3 tahun 20002 dalam rangka untuk meningkatkan efektifitas penyelenggaraan perlindungan anak Indonesia.

Menurut Hadi Supeno, ketua KPAI ada 4 tantangan berat dalam menhadapi persoalan perlindungan anak Indonesia :

  1. Dari aspek kuantitas jumlah anak sangat banyak, mencapai 30% dari total penduduk Indonesian atau 85 juta jiwa, setiap tahun lahir 4-5 juta bayi, dengan tingkat kematian yang masih tinggi yaitu 34/1000 kelahiran. Ini membutuhkan perhatian dan perlakuan khusus bila kita menginginkan jumlah anak yang banyak merupakan potensi besar dan bukan sumber persoalan besar.
  2. Aspek penyebaran anak-anak Indonesia yang sangat beragam, karena anak-anak Indonesia tersebar dalam varian geografis yang sangat beragam.
  3. Para Kepala Daerah baik Gubernur, Bupati maupun Walikota tidak sama sensitifitasnya atau responsibilitasnya terhadap persoalan perlindungan anak.
  4. Hak-hak di Indonesia merupakan nilai-nilai dan norma-norma baru sehingga perlu di kampanyekan secara terus-menerus, agar anak-anak Indonesia mendapatkan dan merasakan hak-haknya secara keseluruhan.

Maka diharapkan agar pemerintah memberi perhatian lebih terhadap kepentingan dan hak anak-anak Indonesia. Serta bagi para orang tua pun harus sadar bahwa memperbudak dan berbagai tindak kekerasan terhadap anak itu adalah sebuah pelanggaran hak-hak anak. Dengan semua sadar akan pentingnya perlindungan yang harus diberi kepada anak maka anak-anak Indonesia akan hidup sejahtera dan mereka akan mendapatkan hak yang semestinya mereka dapatkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s